Jaksa Agung Basrief Arief telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) atas pencopotan Wahyudi dari jabatan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bojonegoro. Untuk sementara ini, posisi Kajari Bojonegoro akan dijabat oleh salah seorang asisten Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur.
"SK Jaksa Agung No Kep-002/A/JA/01/2011 tanggal 6 Januari 2011. Sementara Kajari Bojonegoro dijabat oleh salah seorang asisten (pembinaan)," ujar Jaksa Agung Muda Pengawasan Marwan Effendy dalam pesan singkatnya kepada wartawan, Kamis (6/1/2011).
Sementara itu, Wahyudi sendiri akan ditarik Kejaksaan Agung. Dan kemudian selanjutnya ditempatkan sebagai staf di Kejaksaan Agung.
"Akan ditempatkan pada posisi staf bukan pimpinan," tutur Marwan sebelumnya.
Namun demikian, Marwan masih enggan membeberkan Wahyudi nantinya akan ditempatkan di bagian mana di Kejagung.
Kejagung telah menjatuhkan hukuman disiplin berupa teguran tertulis kepada Wahyudi yang dinilai telah lalai sebagai Kajari Bojonegoro dalam mengawasi anak buahnya, sehingga terjadinya kasus joki narapidana yang melibatkan 3 orang anak buahnya di Kejari Bojonegoro.
Sanksi yang diberikan kepada Wahyudi tergolong sanksi ringan. Sedangkan 3 anak buahnya mendapat sanksi berat. Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Bojonegoro Hendro Sasmito, dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat berupa pembebasan dari jabatan struktural.
Kemudian Tri Murwani selaku jaksa fungsional Kejari Bojonegoro juga dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat berupa pembebasan dari jabatan fungsional.
Sedangkan staf tata usaha Kejari Bojonegoro, Widodo Priyono, diberhentikan dengan tidak hormat sebagai PNS. Widodo dianggap paling bertanggung jawab atas kasus penukaran Kasiem dengan Karni ini. Dialah yang mengawal terpidana kasus penyelewengan pupuk bersubsidi Kasiem ke lembaga permasyarakatan Bojonegoro.
Wahyudi Dicopot, Kajari Bojonegoro Dijabat Asisten Kajati Jatim
Pamor SBY semakin Menurun
Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyebut tren kepuasan publik terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) cenderung menurun, dari 85 persen pada Juli 2009 menjadi 62 persen pada Oktober 2010. Demokrat tetap optimistis jelang 2014.
"Kami masih tetap percaya bahwa masyarakat akan menentukan pilihan terbaik," kata Syarif Hasan, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Kamis 6 Januari 2010.
Syarif menegaskan bahwa Partai Demokrat belum memikirkan Pemilu Presiden 2014. Yang menjadi fokus saat ini, kata Syarif, bagaimana memikirkan agar program pemerintah berjalan dengan baik.
Syarif menilai hasil survei yang naik-turun dianggap hal yang biasa. Namun Pemerintah tetap akan bekerja secara optimal.
"Siapa partai yang mereka pilih, tentu karena ada respon positif dari masyarakat," ujar politisi yang juga Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah ini.
Syarif menduga, salah satu penyebab turunnya popularitas SBY adalah berangkat isu-isu yang sebenarnya dilakukan secara bersama. Bukan semata-mata karena SBY sendiri.
"Turun karena ada isu yang banyak, isu yang perlu ditangani bersama. Mungkin ada climate change yang pengaruhi ekonomi Indonesia," kata politisi yang juga Sekretaris Sekretariat Gabungan ini.
